(39 Tahun Paroki Santo Petrus Denpasar & 25 Tahun Imamat RD Yohanes Martanto)
Tahun 2026 menjadi tahun penuh syukur bagi keluarga besar Paroki Santo Petrus Denpasar. Perjalanan 39 tahun paroki dirayakan bersama dengan 25 tahun imamat Pastor Paroki, RD Yohanes Martanto. Dua perjalanan ini menjadi bagian dari satu kisah iman yang terus bertumbuh: kisah sebuah paroki beserta umatnya dan kisah seorang imam yang telah mempersembahkan seperempat abad hidupnya bagi Tuhan dan Gereja.
Semangat kebersamaan terasa sejak masa persiapan. Sebanyak 15 lingkungan, 38 KBG, 902 keluarga, dan 3.179 jiwa, bersama berbagai komunitas, bahu-membahu mengambil bagian dalam kegiatan penggalangan dana melalui penjualan daging babi, bazar makanan dan frozen food, serta kupon undian berhadiah. Setiap tenaga, waktu, dan talenta yang dipersembahkan menjadi bagian penting dalam mewujudkan sebuah perayaan besar.

Refleksi Iman
“Bertahan dalam Kelemahan, Ketika Kasih-Nya Menjadi Kekuatan”
Pada Jumat, 28 Agustus 2026, Balai Pertemuan Bhumiku menjadi ruang perjumpaan bagi lebih dari 500 umat dalam kegiatan Refleksi Iman bersama Romo Eko Wahyu OSC. Di tengah suasana hangat dan penuh sukacita, acara diawali dengan lantunan pujian dari PS Magnificat Paroki Santo Petrus dan PD Gratia Bali. Sejenak, umat diajak meletakkan kesibukan, membuka hati, dan menengok kembali perjalanan hidup dalam terang kasih serta penyertaan Tuhan.
Hidup tidak selalu membawa kita ke jalan yang mudah. Melalui pengalaman yang terkadang sulit dipahami, kita belajar bertumbuh dalam kerendahan hati, menjadi lebih kuat, serta semakin peka terhadap luka dan penderitaan sesama. Tidak semua jawaban harus ditemukan hari ini. Ada hal-hal yang baru dapat kita pahami ketika menengoknya kembali dalam terang waktu dan rencana Tuhan.
Di tengah pergumulan, Tuhan menawarkan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Damai bukanlah ketiadaan masalah, melainkan ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian. Kekhawatiran, ketakutan, dan segala beban hati dapat kita letakkan di hadapan Tuhan melalui doa. Sebab, hati yang terus digenggam oleh kekhawatiran akan sulit merasakan kedamaian.
Barangkali, kedamaian yang kita cari tidak selalu berada jauh di luar diri. Damai sejati berawal ketika hati kembali berdamai dengan Allah. Saat menjauh dari-Nya, menyimpan luka dan rasa bersalah, atau berusaha menanggung segala sesuatu dengan kekuatan sendiri, hati perlahan kehilangan tempat untuk beristirahat. Karena itu, kita dipanggil untuk kembali kepada-Nya, datang apa adanya, membuka hati, mengakui kelemahan, dan mempercayakan seluruh perjalanan hidup kepada-Nya. Dalam hubungan yang dipulihkan dengan Allah, hati menemukan rumahnya kembali.
Ketika hati dipenuhi kasih Allah, kasih itu tidak mungkin berhenti pada diri sendiri, tetapi mengalir menjadi belas kasih kepada sesama. Karena telah diampuni, kita belajar mengampuni. Karena diterima dalam segala kelemahan, kita belajar menerima. Karena dikasihi tanpa syarat, kita pun belajar menghadirkan kasih yang sama bagi orang-orang di sekitar. Di situlah iman menemukan wujudnya: bukan hanya dalam doa dan kata-kata, melainkan juga dalam hati yang semakin mampu mengasihi.

Baksos Kesehatan Mata
Pada 11 September 2026, semangat syukur diwujudkan melalui kegiatan bakti sosial kesehatan mata yang diselenggarakan oleh Tim Kesehatan Paroki bekerja sama dengan The Bali Mission of Divine Mercy for America dan Yayasan John Fawcett Foundation. Bertempat di pastoran, kegiatan ini melayani lebih dari 500 orang, baik umat maupun masyarakat umum, melalui pemeriksaan mata, pembagian kacamata gratis, serta operasi katarak tanpa biaya. Melalui pelayanan ini, rasa syukur diwujudkan dalam kepedulian dan kasih nyata bagi sesama yang membutuhkan.

Perayaan Ekaristi dan Syukuran Bersama Umat
Tanggal 21 September 2026 menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar Paroki Santo Petrus. Dalam Perayaan Ekaristi dan syukuran bersama, umat berkumpul untuk mengungkapkan rasa syukur atas 39 tahun perjalanan paroki serta 25 tahun imamat Romo Martanto.
Perayaan ini menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan panjang yang diwarnai iman, pelayanan, perjuangan, dan penyertaan Tuhan. Melalui Ekaristi, seluruh umat dipersatukan untuk mensyukuri rahmat yang telah diterima sekaligus memohon kekuatan dalam melanjutkan peziarahan iman pada masa mendatang.
Nuansa budaya Jawa turut mewarnai perayaan melalui iringan gamelan dan tari persembahan. Perpaduan budaya dan liturgi menghadirkan suasana khas sekaligus menjadi ungkapan syukur yang berpadu dengan semangat iman dan kebersamaan.
Sukacita berlanjut dalam acara syukuran di depan gereja. Dengan panggung dan hiburan yang disiapkan, umat bersama para tamu undangan membaur dalam suasana kekeluargaan. Persaudaraan dan kebahagiaan terasa ketika seluruh hadirin berkumpul untuk merayakan perjalanan berharga ini.
Perayaan tersebut menjadi pengingat bahwa Gereja bertumbuh bukan hanya melalui bangunan dan kegiatan, melainkan terutama melalui umat yang setia berjalan bersama, saling melayani, dan terus memelihara kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Mengabadikan Perjalanan
Sebagai bagian dari ungkapan syukur, perjalanan 39 tahun Paroki Santo Petrus diabadikan melalui penerbitan buku sejarah berjudul Berdiri di Tengah Keraguan, Bertumbuh dalam Harapan: Sejarah Perkembangan Paroki Santo Petrus Denpasar, 1987–2026. Buku ini menjadi upaya untuk merawat ingatan tentang sejarah, karya, serta perjalanan umat dan para imam yang telah membentuk Paroki Santo Petrus hingga saat ini.
Buku tersebut diluncurkan pada Misa Syukur tanggal 21 September 2026 dan diserahkan secara simbolis oleh penulis, Bapak F.X. Soenaryo, bersama Romo Martanto kepada Bapak Uskup Silvester San. Momen ini menjadi penanda penting bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan warisan iman yang perlu dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Napak Tilas dan Ziarah, 29 September–3 Oktober 2026
Rangkaian syukur dilanjutkan dengan napak tilas dan ziarah ke sejumlah tempat di Jawa Tengah dan Yogyakarta pada 29 September hingga 3 Oktober 2026. Perjalanan ini menjadi kesempatan bagi umat untuk berdoa, berefleksi, serta mengenal lebih dekat jejak kehidupan dan panggilan imamat Romo Martanto.
Perjalanan dimulai pada Selasa, 29 September 2026, dari Denpasar menuju Yogyakarta melalui penyeberangan Gilimanuk–Ketapang dan jalur darat melalui Tol Trans Jawa. Setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan melanjutkan ziarah pada Rabu, 30 September 2026, dengan mengunjungi Gua Maria Ratu Kenya Wonogiri, Gua Maria Rosario Ngijorejo, Gua Maria Tritis di Gunung Kidul, serta Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran. Di setiap tempat, umat meluangkan waktu untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus mempererat kebersamaan dalam perjalanan iman.
Puncak perjalanan berlangsung pada Kamis, 1 Oktober 2026, di Gua Maria Sendangsono, tempat kelahiran Romo Martanto. Di tempat yang memiliki arti penting dalam perjalanan hidupnya ini, umat mengikuti rekoleksi bersama Romo Alphonsus Rodriquest Yudono Suwondo, yang dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi sebagai Misa Syukur 25 tahun imamat Romo Martanto. Dalam suasana doa dan syukur, perjalanan panggilan imamat tersebut dipersembahkan kembali kepada Tuhan sebagai ungkapan terima kasih atas penyertaan-Nya selama 25 tahun pelayanan.
Usai perayaan, rombongan mengunjungi rumah Romo Martanto dan menikmati makan siang bersama keluarga. Momen ini menjadi kesempatan untuk berbagi kebersamaan, mengenal lebih dekat perjalanan hidup Romo Martanto, serta merasakan kehangatan kekeluargaan di tengah rangkaian ziarah.
Pada Jumat, 2 Oktober 2026, perjalanan berlanjut dengan kunjungan ke Taman Doa Pringwulung dan Gua Maria Pereng. Rombongan kemudian menuju Gua Maria Kerep Ambarawa untuk mengikuti Perayaan Ekaristi dan meluangkan waktu untuk berdoa secara pribadi. Dari sana, perjalanan diteruskan menuju Gereja Jago sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.
Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, rombongan menyeberang dari Ketapang menuju Gilimanuk, kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Denpasar. Selama lima hari, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan ke berbagai tempat ziarah, melainkan juga kesempatan untuk memperdalam iman, mempererat persaudaraan, dan mensyukuri penyertaan Tuhan dalam setiap langkah peziarahan.
Seluruh rangkaian kegiatan ini menjadi ungkapan syukur atas perjalanan yang telah dilalui bersama. Tiga puluh sembilan tahun Paroki Santo Petrus dan 25 tahun imamat Romo Martanto bukan sekadar angka, melainkan jejak iman, pelayanan, perjuangan, dan kasih yang telah menjadi bagian dari kehidupan umat.
Kiranya kenangan ini senantiasa mengingatkan kita bahwa perjalanan Gereja tidak pernah ditempuh sendirian. Kita berjalan bersama, dikuatkan oleh iman, disatukan dalam kasih, dan senantiasa berharap pada penyertaan Tuhan.
(Kak Yo)



